Tuesday, February 28, 2017

Kajian Sosiolinguistik: Masyarakat Tutur



PENDAHULUAN

Seperti kita ketahui bahasa dan masyarakat merupakan dua sisi mata uang yang tidak dapat dipisahkan, tidak mungkin ada masyarakat tanpa bahasa dan tidak mungkin pula ada bahasa tanpa masyarakat. Namun seiring berjalannya waktu dalam suatu bahasa juga dapat terjadi pergeseran, hal ini terjadi karena dipengaruhi berbagai hal diantaranya perkembangan ilmu dan teknologi. Seperti kita ketahui pula bahwa fungsi bahasa secara umum adalah sebagai alat komunikasi sosial. Bahasa adalah suatu wahana untuk kita berinteraksi dengan orang lain. Dengan demikian setiap anggota masyarakat tentunya memiliki dan menggunakan alat komunikasi sosial tersebut. Tidak ada bahasa tanpa masyarakat dan tidak ada pula masyarakat tanpa bahasa.

Seiring dengan berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi, maka bahasa pun mengalami perubahan yang sangat signifikan. Hal ini disebabkan karena bahasa memang tidak lepas dari masyarakat. Dua hal ini saling berkaitan, begitu pula dengan bahasa indonesia yang diangkat dari bahasa Melayu yang bersifat lingua franca sebagai bahasa penghubung yang tersebar di Nusantara hingga saat dirumuskannya bahasa Indonesia sebagai bahasa pemersatu yang menjadi bahasa negara, sejak itupun perkembangan bahasa Indonesia terus berkembang, beribu-ribu istilah dan kata-kata baru bermunculan, dari segi struktur kita tingkatkan swadayanya sehingga kita dapat rumuskan segala pemikitan yang tinggi dan rumit dalam bahasa Indonesia, sehingga bahasa Indonesia menjadi bahasa yang canggih yang dapat memenuhi kebutuhan masyarakatnya yang juga berkembang dan modern. Dengan mengetahui latar belakang tersebut, maka akan dibahasa selanjutnya mengenai Bahasa dan tutur, Verbal repertoire, Masyarakat tutur, dan Bahasa dan tingkatannya

BAHASA DAN TUTUR

Ferdinand de Saussure seorang ahli bahasa (1916) dalam buku Abdul Chaer (2010) membedakan antara yang disebut langage, language, dan parole. Ketiga istilah yang berasal dari bahasa perancis itu, dalam bahasa indonesia dipadankan dengan satu istilah, yaitu bahasa. Istilah langage digunakan untuk menyebut bahasa sebagai sistem lambang bunyi yang digunakan manusia untuk berkomunikasi dan berinteraksi secara verbal dengan sesamanya, atau langage juga disebut bahasa secara umum. Contoh “ Manusia mempunyai bahasa, binatang tidak “. Jadi, penggunaan istilah bahasa dalam kalimat tersebut, sebagai padanan kata langage, tidak mengacu pada salah satu bahasa tertentu melainkan mengacu pada bahasa umumnya, sebagai alat komunikasi manusia, binatang juga melakukan komunikasi, tetapi bukan menggunakan bahasa.

Istilah kedua yaitu langue merupakan sebagai sebuah sistem lambang bunyi yang digunakan oleh sekelompok anggota masyarakat tertentu untuk berkomunikasi, atau langue juga disebut bahasa secara khusus atau bahasa tertentu. Contoh “ Nina belajar bahasa jepang, sedangkan Dika belajar bahasa arab ”. sama dengan langage, langue juga bersifat abstrak.

Istilah ketiga parole, bersifat konkret, karena parole merupakan pelaksanaan dari langue, dalam bentuk ujaran atau tuturan, yang mempunyai ciri khas. Setiap orang secara konkret memiliki kekhasan sendiri sendiri dalam berbahasa (berbicara atau menulis). Kekhasan ini dapat mengenal volume suara, pilihan kata, penataan sintaksis, dan penggunaaan unsur unsur bahasa lainnya. Ciri khas bahasa seseorang disebut dengan istilah idiolek. Jadi, kalau ada 1000 orang maka akan ada 1000 idiolek. Setiap bahasa sebagai langue dapat terdiri dari sejumlah dialek, dan setiap dialek terdiri dari sejumlah idiolek.

VERBAL REPERTOIR

Ferdinand de Saussure membedakan antara langue dan parole, antara bahasa sebagai suatu sistem yang sifatnya abstrak. Dan bahasa dalam penggunaannya secara nyata di dalam masyarakat yang bisa kita sebut tuturan (inggris: speech). Pakar lain chomsky, contoh tata bahasa generatif transformasi menyebutkan adanya kompetensi (inggris:competence) disamping performans. Yang dimaksud kompetensi yaitu kemampuan, yakni pengetahuan yang dimiliki pemakai bahasa mengenai bahasanya. Sedangkan performans adalah perbuatan berbahasa atau pemakaian bahasa itu sendiri dalam keadaan sebenarnya di dalam masyarakat. Komunikatif adalah kemampuan bertutur atau kemampuan untuk menggunakan bahasa sesuai dengan fungsi serta norma norma penggunaan bahasa dengan konteks situasi dengan konteks sosialnya (Halliday 1972:269-293).

Jadi, untuk dapat disebut mempunyai kemampuan komunikatif seseorang haruslah mempunyai kemampuan untuk bisa membedakan kalimat yang gramatikal dan yang tidak gramatikal, serta mempunyai memilih bentuk bentuk bahasa yang sesuai dengan situasinya, serta tidak hanya dapat menginterpresentasikan makna referensial tetapi juga dapat menafsirkan makna konteks dan makna situasional. 

Kemampuan komunikatif seseorang juga bervariasi, setidaknya menguasai satu bahasa ibu dengan berbagai variasi atau ragamnya; dan yang lain mungkin menguasai, selain bahasa ibu, juga sebuah bahasa lain atau lebih, yang diperoleh sebagai hasil pendidikan atau pergaulannya dengan penutur bahasa di luar lingkungannya. 

Semua bahasa beserta ragam-ragamnya yang dimiliki atau dikuasai seorang penutur ini biasa disebut dengan istilah repertoir bahasa atau verbal repertoir dari orang itu. Berdasarkan luas dan sempitnya verbal repertoir sebuah masyarakat tutur dibagi menjadi dua, yaitu :
1.    Verbal repertoire yang dimiliki setiap penutur secara individual, menunjukan keseluruhan alat-alat verbal yang dikuasai oleh setiap penutur, pemilihan bentuk dan norma-norma bahasa sesuai dengan fungsi dan situasinya.
2.    Verbal repertoir yang menjadi milik masyarakat tutur secara keseluruhan, menunjukan keseluruhan alat-alat verbal yang ada dalam masyarakat tutur serta norma-norma untuk menentukan pilihan variasi sesuai dengan konteks sosialnya.

Kajian yang mempelajari penggunaan bahasa sebagai sistem interaksi verbal di antara para penuturnya di dalam masyarakat disebut sosiolinguistik interaksional atau sosiolinguistik mikro. Sedangkan kajian mengenai penggunaan bahasa dalam hubungannya dengan adanya ciri ciri linguistik didalam masyarakat disebut sosiolinguistik korelasional atau sosiolinguistik makro (Appell 1976). Kedua jenis sosiolinguistik ini makro dan mikro mempunyai hubungan sangat erat, tidak dapat dipisahkan, karena keduanya saling bergantung. Maksudnya verbal repertoir setiap penutur ditentukan oleh masyarakat dimana ia berada sedangkan verbal repertoir suatu masyarakat tutur terjadi dari himpunan verbal repertoir semua penutur di dalam masyarakat itu.

MASYARAKAT TUTUR

Kalau suatu kelompok atau suatu masyarakat mempunyai verbal repertoir yang relatif sama serta mereka mempunyai penilaian yang sama terhadap norma norma pemakaian bahasa yang digunakan dalam masyarakat itu, maka dapat dikatakan kelompok orang itu atau masyarakat itu adalah sebuah masyarakat tutur (inggris:speech community). Jadi, masyarakat tutur bukanlah hanya sekelompok orang yang menggunakan bahasa yang sama, melainkan kelompok orang yang mempunyai norma yang sama dalam menggunakan bentuk bentuk bahasa. Untuk dapat disebut satu masyarakat tutur adalah adanya perasaan diantara penuturnya, bahwa mereka merasa menggunakan tutur yang sama (Djokokentjono, 1982).

Fishman (1976:28) menyebut “ masyarakat tutur adalah suatu masyarakat yang anggota-anggotanya setidak tidaknya mengenal satu variasi bahasa beserta norma-norma yang sesuai dengan penggunaanya ”. Kata masyarakat dalam istilah masyarakat tutur bersifat relatif, dapat menyangkut masyarakat yang luas, dan dapat pula hanya menyangkut sekelompok kecil orang.

Bahasa mengenal masyarakat tutur sebenarnya sangat beragam, yang barang kali antara satu dengan yang lain agak sukar untuk di pertemukan. Bloomfield (1933:29) membatasi dengan “ sekelompok orang yang menggunakan sistem isyarat yang sama “. Batasan Bloomfield ini dianggap terlalu sempit oleh para ahli sosiolinguistik sebab, terutama dalam masyarakat modern banyak orang yang menguasai lebih dari satu ragam bahasa.

Dan didalam masyarakat itu sendiri terdapat lebih dari satu bahasa. Batasan yang diberikan oleh Labov (1972:158) yang mengatakan “ satu kelompok orang yang mempunyai norma yang sama mengenai bahasa “. Pandangan  ini dianggap terlalu luas dan terbuka.  

Masyarakat tutur yang besar dan beragam memperoleh verbal repertoirnya dari pengalaman atau dari adanya interaksi verbal langsung di dalam kegiatan tertentu. Mungkin juga di peroleh secara referensial. Yang diperkuat dengan adanya integrasi simbolik, seperti integrasi dalam sebuah wadah yang disebut negara, bangsa, atau daerah. Jadi, mungkin saja suatu wadah negara, bangsa, atau daerah membentuk suatu masyarakat tutur dalam pengertian simbolik itu. Dalam hal ini tentu saja yang disebut bahasa nasional dan bahasa daerah jelas mewakili masyarakat tutur tertentu dalam hubungan dengan variasi kebahasaan.
Dilihat dari sempit dan luas verbal repertoirnya dapat dibedakan adanya dua macam masyarakat tutur yaitu (1) masyarakat tutur yang repertoir pemakaiannya lebih luas, dan menunjukkan verbal repertoir setiap penutur lebih luas pula, dan (2) masyarakat tutur yang sebagian anggotanya mempunyai pengalaman sehari hari dan aspirasi hidup yang sama dan menunjukkan pemilikan wilayah linguistik yang lebih sempit, termasuk juga perbedaan variasinya. Kedua jenis masyarakat tutur ini terdapat baik dalam masyarakat yang termasuk kecil dan tradisional maupun masyarakat besar dan modern. Hanya, seperti dikatakan Fishman(1976:33) dan juga Gumperz (1973:37-53). Masyarakat modern mempunyai kecenderungan memiliki masyarakat tutur yang lebih terbuka dan cenderung menggunakan berbagai variasi dalam bahasa yang sama. Sedangkam masyarakat tradisional bersifat lebih tertutup dan cenderung menggunakan variasi dalam beberapa bahasa yang berlainan. Penyebab kecenderungan itu adalah berbagai faktor sosial dan faktor kurtural.
Sedangkan Berdasarkan verbal repertoir yang dimiliki oleh masyarakat, masyarakat bahasa dibedakan menjadi tiga, yaitu:

a.    Masyarakat monolingual (satu bahasa)

Masyarakat monolingual artinya suatu masyarakat bahasa yang hanya dapat berkomunikasi dengan satu bahasa. Masyarakat monolingual ini sudah mulai jarang ditemukan pada zaman sekarang. Masyarakat monolingual biasanya terdapat di daerah terisolasi.

b.    Masyarakat bilingual (dua bahasa)

Masyarakat bilingual lebih maju jika dibandingkan dengan masyarakat monolingual. Hal ini karena masyarakat bilingual telah dapat berkomunikasi dengan dua bahasa. Artinya , masyarakat bilingual lebih bersifat komunikatif dibandingkan masyarakat monolingual.

c.    Masyarakat multilingual (lebih dari 2 bahasa).

    Kelompok masyarakat bahasa multilingual memiliki kemampuan menggunakan lebih dari dua bahasa.

BAHASA DAN TINGKATANAN SOSIAL MASYARAKAT

Pokok pembicaran sosiolinguistik adalah hubungan antara bahasa dengan penggunaanya didalam masyarakat yaitu hubungan antara bentuk-bentuk bahasa tertentu, yang disebut variasi bahasa, ragam, atau dialek dengan penggunaannya untuk fungsi-fungsi tertentu dimasyarakat. Misalnya, untuk kegiatan pendidikan digunakan bahasa baku, untuk kegiatan sehari-hari menggunakan ragam bahasa tak baku, untuk berbisnis ragam usaha, untuk mencipta karya seni digunakan ragam sastra dan lainnya.
Tingkatan sosial di dalam masyarakat itu bisa dilihat dari dua segi yaitu :
1.    Dari segi kebangsawanan
2.    Dari segi kedudukan sosial yang ditandai dengan tingkatan pendidikan dan keadaan perekonomian yang dimiliki
Untuk melihat adanya hubungan antara kebangsawanan dengan bahasa, kita ambil contoh masyarakat tutur bahasa jawa, mengenai tingkat kebangsawanan ini, Kuntjaraningrat ( 1967:245) membagi masyarakat jawa ada 4 tingkat yaitu :
a. Wong cilik
b. Wong sudagar
c. Priyayi
d. Ndara

Sedangkan menurut Clifford beerts (dalam Pride dan Holmes, 1976), membagi masyarakat jawa menjadi 3 tingkat yaitu :
a. Priyayi  
b. Bukan priyayi tetapi berpendidikan dan bertempat tinggal dikota
c. Petani dan orang-orang kota yang tidak berpendidikan

Dari kedua penggolongan tersebut, jelas adanya perbedaan tingkat dalam masyarakat tutur bahasa Jawa. Berdasarkan tingkatan itu, maka dalam masyarakat Jawa terdapat berbagai variasi bahasa yang digunakan sesuai dengan tingkat sosialnya yang lazim disebut sosiolek (Nababan, 1984).

Perbedaan variasi bahasa dapat juga terjadi apabila yang terlibat dalam pertuturan mempunyai tingkat sosial yang berbeda. Misalnya jika wong cilik berbicara dengan priyayi  atau ndara maka masing-masing menggunakan variasi bahasa Jawa yang berlainan. Pihak yang tingkat sosialnya lebih rendah menggunakan tingkat bahasa yang lebih tinggi, yaitu krama dan yang tingkat sosialnya lebih tinggi menggunakan tingkat bahasa yang lebih rendah yaitu ngoko. Variasi bahasa yang penggunaannya didasarkan pada tingkat-tingkat sosial ini dikenal dalam bahasa Jawa dengan istilah undak usuk. 

Sehubungan dengan undak usuk ini bahasa Jawa terbagi dua, yaitu krama untuk tingkat tinggi dan ngoko untuk tingkat rendah. Namun, diantara keduanya masih terdapat adanya tingkat-tingkat antara. Uhlenbeck (1970), seorang pakar bahasa Jawa, membagi tingkat variasi bahasa Jawa menjadi tiga yaitu krama, madya dan ngoko lalu diperinci lagi menjadi muda krama, kramantara dan wreda krama madyangoko, madyantara dan madya krama; ngoko sopan dan ngoko andhap. Sedangkan Clifford Geertz (1976) membagi menjadi dua bagian pokok yaitu krama dan ngoko. Lalu krama diperinci lagi menjadi krama inggil, krama biasa dan krama madya sedangkan ngoko deperinci menjadi ngoko madya, ngoko biasa dan ngoko sae.

Dalam masyarakat kota besar yang heterogen dan multietnis, tingkat status sosial berdasarkan derajat kebangsawanannya mungkin sudah tidak ada ataupun walaupun masih ada sudah tidak dominan lagi. Sebagai gantinya adalah lapisan tingkatan dilihat dari status sosial ekonomi.

Dari uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa ada korelasi antara tingkat sosial didalam masyarakat dengan ragam bahasa yang digunakan sejalan dengan kesimpulan adanya hubungan antar kode bahasa dengan kelas sosial sosial penuturnya.

REFERENSI

Appel, Rene. 1976. Sosiolinguistiek. Utrech-Antwerpen: Het Spectrum

Bloomfield, Leonard. 1933. Language. New York: Holt, Rinehart and Winston

Chomsky, N. 1965. Aspects of the Theory of a Syntax. Cambridge-Mass: The MIT Press

Djoko Kencono. 1978. “Beberapa Masalah Lafal Standar” Pengajaran Bahasa dan Sastra. Th. V, No. 5:16-23

Fishman, J.A. 1968. Reading in the Sociology of Language. Den Haag-Paris: Mouton

Gumperz, J.J. 1970. The Speech Community. New York: Holt, Rinehart

Halliday, M.A.K. 1986. The Users and Uses of Language dalam Fishman (Ed) 1968.

Labov, William. 1966. The Social Startification of English in New York City. Washington D.C: Center for      Applied Linguistics

Nababan, P.W.J. 1984. Sosiolinguistik. Jakarta: Gramedia





Thursday, June 30, 2016

Hubungan antara Bahasa dan Budaya

Artikel di bawah ini hanya menjelaskan bagaimana hubungan antara bahasa dan budaya dikehidupan sosial yang kita alami dalam keseharian.

Bahasa merupakan hal utama yang kita sering gunakan dalam kehidupan sosial. Hal ini sejalan dengan pendapat  Keraf (1997:1) bahwa, bahasa adalah alat komunikasi antara anggota masyarakat berupa simbol bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap manusia. Ketika kita menggunakan bahasa di dalam konteks komunikasi, maka terjadilah hubungan erat antara bahasa dan budaya.

Manusia mengucapkan kata-kata lebih mengarah kepada pengekspresian pengalaman. Mereka mengekspresikan fakta-fakta, ide-ide atau kejadian-kejadian yang mereka ketahui karena mereka mempunyai sebuah stok pengetahuan tentang dunia yang didapatkannya dari orang lain. Kata-kata juga menggambarkan sikap dan kepercayaan mereka, penglihatan mereka. Sehingga keduanya menggambarkan bahwa bahasa mengutarakan kenyataan kebudayaan.

Tetapi harus diingat bahwa sebuah komunitas atau kelompok sosial tidak hanya mengutarakan pengalaman saja; mereka juga menciptakan pengalaman melalui bahasa. Mereka memberi arti terhadap bahasa melalui perantara yang mereka pilih untuk berkomunikasi dengan orang lain, Contohnya; berbicara ditelpon atau tatap muka, menulis sebuah surat atau mengirim sebuah e-mail, membaca surat kabar atau menginterprestasikan sebuah grafik atau peta. Dengan begitu mereka menggunakan berbicara, menulis, atau perantara yang dapat mereka lihat yang menciptakan arti yang dapat dipahami di mana mereka berkomunikasi, contohnya; melalui nada suara pembicara, logat atau aksen, gaya percakapan, gerakan tubuh dan ekspresi wajah. Melalui semua aspek bahasa verbal dan bahasa non-verbal, bahasa mewujudkan kenyataan kebudayaan.

Akhirnya, bahasa merupakan sebuah sistem tanda yang dapat dilihat seperti keberadaan sebuah nilai budaya. Identitas pembicara diri mereka sendiri dan yang lain dapat diketahui melalui bahasa yang mereka gunakan dan yang mereka lihat merupakan sebuah simbol dari identitas sosial mereka. Sehingga kita dapat mengatakan bahwa bahasa merukan simbol dari kenyataan kebuadayaan.

Tuesday, April 5, 2016

Applied Linguistics and Educational Linguistics

The term 'applied linguistics' refers to a broad range of activities which involve solving some languagerelated problem or addressing some language-related concern. And The Educational Linguistics strand encompasses a wide range of topics related to language (in) education, generally with a focus on and/or implications for practice and/or policy.  The unifying element is attention to education, whether formal or informal, rather than any particular theoretical or methodological perspective. 

APPLIED LINGUISTICS:

  • Vivian Cook : Applied linguistics means many things to many people (2006, 56).
  • Spolsky :  ....Applied linguistics (is now) a cover term for a sizeable group of semi-autonomous disciplines, each dividing its parentage and allegiances between the formal study of language and other relevant fields and each working to develop its own methodologies and priciples (2005:36).
  • Guy Cook : Applied linguistics as “the academic discipline concerned with the relation of knowledge about language to desicion making in the real world. The scope of applied linguistics remains rather vague’ but attempts to delimit its main ideas of concern as consisting on language and education; language, work and law; and language information and effect (2003:7-8).
  • Corder : the target of applied linguistics: Language teaching, widely interpreted and therefore including for example: speech therapy, translation and language planning (1973)
  • Brumfit : “A working definition of applied linguistics will then be the theoretical and empirical investigation of real-world problem in which language is a central issue (1977:93).
  • Cumming : Encourage the submission of more manuscripts from (a) diverse disciplines, including applications of methods and theories from linguistics, psycholinguistics, cognitive science, ethnography, ethnomethodology, sociolinguistics, sosiology, semiotics, educational inquiry and cultural or historical studies, to address; (b) fundamental issues in language learning, such as multilingualism, language acquisition, second and foreign language education, literacy, culture, cognition, pragmatics and intergroup relation (1993:1-2).

EDUCATIONAL LINGUISTICS

Spolsky,  (1999)  and  in  university  programs  and  courses.  With  the growing significance of language education as a result of decolonization and globalization, more and more educational systems are appreciating the need to train teachers and administrators in those aspects of linguistics that are relevant to education and in the various subfields that have grown up within educational linguistics itself.

That linguistics is often relevant to education, the relation is seldom direct. Educational linguistics as a sub-field of linguistics, much like educational psychology and educational sociology are subfields of their disciplines proper, that would specifically address the broad range of issues related to language and education (1978:5)

Educational linguistics is an area of study that integrates the research tools of linguistics and other related disciplines of the social sciences in order to investigate holistically the broad range of issues related to language and education (Hornberger, 2001; Spolsky, 1978) in Spolsky, (2008:10)

The Similarities of Applied and Educational Linguistics :

1.    Study of  language
2.    Must be synthesized in a complementary manner with the approaches of other disciplines in order to comprehend fully any specific problem (viz. issue or theme) related to language and education.
 

The Differencies of Applied and Educational Linguistics :

Educational Linguistics:
1.    The holistic study of specific issues – that educational linguistics emerged as problem-oriented and interdisciplinary.
2.    In educational linguistics, a researcher begins with a problem, issue or theme, related to language and education and then synthesizes the research tools in her/his intellectual repertoire to investigate or explore it.
3.    Concerned  with the study of all the factors that influence language use as it relates to education.
The objective of  Educational Linguistics is advancing educational issues ranging from language acquisition to language planning.

Applied Linguistics:
1.    ‘trans-disciplinary’ rather than ‘inter-’ or ‘multidisciplinary’
2.    Relevant other fields and each working to develop its own methodologies and principles.
3.    The theoretical and empirical investigation of real-world problem in which language is a central issue.
4.    The process or activity of applied linguistics is carried out by taking the known research and theory of linguistics and applying a linguistic analysis to specific contexts outside linguistics proper (e.g., language teaching, interpreting and  translating, or  lexicography).

References:

Cook, Guy. (2003). Applied linguistisc. Oxford: Oxford University Press.

Cook, Vivian. (2006). ‘What is applied linguistics?’ in Vivian Cook: Obscure Writing.

Corder, S. Pit. (1973). Introducing applied linguistics. Harmondsworth: Penguin.

Cumming, Alister. (1993). ‘Editor’s Preface’, Language Learning, 43 (1):1-2.

Spolsky, Bernard (1978). Educational Linguistics: An Introduction. Rowley, MA: Newbury House.

Spolsky,   Bernard   (ed.)   (1999).   Concise   Encyclopedia   of   Educational   Linguistics. Amsterdam /New  York: Elsevier.

Spolsky, Bernard. (2005). ‘Is language policy applied linguistics?’ in P. Bruthiaux, D. Atkinson, W. G.
Egginton. W. Grabe and V. Ramanathan (eds). Direction in applied linguistics, Clevedon Multilingual Matters.

Spolsky, Bernard. (2005). The handbook of educational linguistics. USA: Blackwell Publishing Ltd

Wednesday, March 30, 2016

Pengertian Psikologi, Linguistik dan Psikolinguistik


Pembelajaran bahasa, sebagai salah satu masalah kompleks manusia, selain berkenan dengan masalah kegiatan berbahasa. Sedangkan kegiatan berbahasa itu bukan hanya berlangsung secara mekanistik, tetapi juga berlangsung secara mentalistik. Artinya, kegiatan berbahasa itu berkaitan juga dengan proses atau kegiatan mental (otak). Oleh karena itu, dalam kaitannya dengan pembelajaran bahasa, studi linguistik perlu dilengkapi antardisiplin antar linguistik dan psikologi, yang lazim disebut psikolinguistik. Untuk memahami dengan lebih baik apa psikolinguistik itu terlebih dahulu perlu dibicarakan apa studi psikologi dan apa studi linguistik itu meskipun secara singkat.

PSIKOLOGI

Secara etimologi kata psikologi berasal dari bahasa Yunani Kuno psyche dan logos. kata Psyche berarti ‘jiwa, roh, atau sukma”, sedangkan kata logos berarti “ilmu”. Jadi, psikologi, secara harfiah berarti “ilmu jiwa’, atau ilmu yang objek kajiannya dalah jiwa. Dalam perkembangannya, psikologi telah terbagi menjadi beberapa aliran sesuai dengan paham filsafat yang dianut. Karena itulah dikenal adanya psikologi yang mentalistik, yang behavioristik, dan yang kognitifistik.

Psikolinguistik  Mentalistik

Aliran ini melahirkan aliran yang disebut psikologi kesadaran. Tujuan utama psikologi kesadaran adalah mencoba mencoba mengkaji psoses-proses akal manusia dengan cara mengintropeksi atau mengkaji diri. Oleh karena itu, psikologi kesadaran lazim juga disebut sebagai psikologi intropeksionisme. Psikologi ini merupakan suatu proses akal dengan cara melihat ke dalam diri sendiri setelah suatu rangsangan terjadi.

Psikologi Behavioristik

Aliran ini merupakan aliran yang disebut psikologi prilaku. Tujuan utamanya adalah mencoba mengkaji prilaku manusia yang berupa reaksi apabila suatu rangasangan terjadi, dan selanjutnya bagaimana mengawasi dan mengontrol prilaku itu. Para pakar psikologi prilaku ini tidak mengkaji ide-ide, pengertian, kemauan, keinginan, maksud, pengaharapan, dan segala mekanisme fisiologi, yang dikaji hanyalah peristiwa-peristiwa yang dapat diamati, yang nyata dan konkret, yaitu kelakuan atau tingkah laku manusia.

Psikologi Kognifistik

Aliran ini juga lazim disebut psikologi kognitif mencoba mencoba mengkaji proses-proses kognitif manusia secara ilmiah. Yang dimaksud dengan proses kognitif adalah proses-proses akal (pikiran, berpikir) manusia yang bertanggung jawab mengatur pengalaman dan prilaku manusia. Hal yang utama dikaji oleh psikologi kognitif adalah bagaimana manusia memperoleh, menafsirkan, mengatur, menyimpan, mengeluarkan, dan menggunakan pengetahuannya, termasuk perkembangan dan penggunaan bahasa. 

LINGUISTIK

Secara umum linguistik lazim diartikan sebagai ilmu bahasa atau ilmu yang mengambil bahasa sebai objek kajiannya. Pakar linguistik disebut linguis. Namun perlu dicatat kata linguis dalam bahasa inggris juga berarti ‘orang yang mahir menggunakan beberapa bahasa”, selain bermakna “pakar linguistik”. Seorang linguis mempelajari bahasa bukan dengan tujuan utama untuk mahir menggunakan bahasa itu, melainkan untuk mengetahui kaidah-kaidah struktur bahasa, beserta dengan berbagai aspek dan segi yang menyangkut bahasa itu. Dan seseorang yang mahir dan lancar beberapa bahasa, belum tentu dia seorang linguis kalau dia tidak mendalami teori tentang bahasa. Orang yang seperti ini lebih tepat disebut seorang poligot ‘berbahasa banyak” sebagai dokotomi dari monoglot “berbahasa satu”.

Linguistik bisa kita lihat dengan berbagai cabang linguistik yang dibuat berdasarkan berbagai kriteria atau pandangan. Secara umum pembidangan linguistik itu adalah sebagai berikut:

Pertama, menurut objek kajiannya, linguistik dapat dibagi atas dua cabang besar, yaitu linguistik mikro dan makro. Objek kajian mikro adalah struktur internal bahasa itu sendiri, mencakup struktur fonologi, morfologi, sintaksis, dan leksikon. Sedangkan objek kajian linguistic makro adalah bahasa dalam hubungannya dengan faktor-faktor diluar bahasa seperti faktor sosiologis, psikologis, antropologi, dan neurologi.

Kedua, menurut tujuan kajiannya, linguistik dapat dibedakan atas dua bidang besar yaitu linguistik teoritis dan linguistik terapan. Kajian teoritis hanya ditunjukan untuk mencari atau menemukan teori-teori linguistik belaka. Hanya untuk membuat kaidah-kaidah linguistik secara deskriptif. Sedangkan kajian terapan ditujukan untuk menerapkan kaidah-kaidah linguistik dalam kegiatan praktis, seperti dalam pengajaran bahasa, penerjemahan, penyusunan kamus, dan sebagainya.

Ketiga, adanya yang disebut lingustik sejarah dan sejarah linguistik. Linguistik sejarah mengkaji perkembangan dan perubahan suatu bahasa atau sejumlah bahasa, baik dengan diperbandingkan maupun tidak. Sementara sejarah linguistik mengkaji perkembangan ilmu lingustik, baik mengenai tokoh-tokoh, aliran-aliran teorinya, maupun hasil-hasil kerjanya.

PSIKOLINGUISTIK

Secara etimologi sudah disinggung bahwa kata psikolinguistik terbentuk dari kata psikologi dan kata linguistik, yakni dua bidang ilmu yang berbeda, yang masing-masing berdiri sendiri, dengan prosedur dan metode yang berlainan. Namun, keduanya sama-sama meneliti bahasa sebagai objek formalnya. Hanya objek materinya yang berbeda, linguistik mengkaji struktur bahasa, sedangkan psikologi mengkaji prilaku berbahasa berbahasa atau proses berbahasa.

Psikolinguistik mencoba menguraikan proses-proses psikologi yang berlangsung jika seorang mengucapkan kalimat-kalimat yang didengarkannya pada waktu berkomunikasi, dan bagaimana kemampuan berbahasa itu diperoleh oleh manusia (Slobin, 1974; meller, 1964; Slama cazahu, 1973). Maka secara teoretis tujuan utama psikolingustik adalah mencari satu teori bahasa yang secara linguistic bisa diterima dan secara psikologi dapat menerangkan hakikat bahasa dan pemerolehannya. Dengan kata lain psikolinguitik mencoba menerangkan hakikat struktur bahasa, dan bagaimana struktur ini diperoleh, digunakan pada waktu bertutur, dan pada waktu memahami kalimat-kalimat dalam pertuturan itu.

 DAFTAR PUSTAKA

Linguistik dalam kajian Teori Pmebelajaran Psikolinguistik http://susiati-abas.blogspot.co.id/

Apa Hakikat Linguistik sebagai Ilmu Bahasa?

  Apa Hakikat Linguistik sebagai Ilmu Bahasa?   Manusia yang selalu berkomunikasi menggunakan bahasa sebagai alat komunikasi tentunya akan d...